THARIQAH ALAWIYYAH



  KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan hidayah, taufik, dan inayahnya kepada kita semua. Sehingga saya bisa menjalani kehidupan ini sesuai dengan ridhonya. Syukur Alhamdulillah saya dapat menyelesaikan makalah ini sesuai dengan rencana. Yang ber- judul  “THARIQAH ALAWIYYAH”
Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Karena beliau adalah salah satu figur umat yang mampu memberikan syafa’at kelak di hari kiamat.
Selanjutnya saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak M. Nor Fuady selaku dosen pengajar mata kuliah Aqidah dan tasawuf, yang telah membimbing saya. Saya mohon ma’af yang sebesar-besarnya apabila dalam penulisan makalah ini terdapat banyak kesalahan didalamnya.
                       Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis umumnya dan khususnya bagi pembaca. Amiiin...
                                                                       

                                                                                                            Banjarmasin,        Januari, 2012


                                                                                                                                           Penyusun
SYARIFAH ZAINAB
             
                                                    PENDAHULUAN

 Tarekat Alawiyyah, secara umum, adalah tarekat yang dikaitkan dengan kaum Alawiyyin atau lebih dikenal sebagai sa’adah atau kaum sayyid – keturunan Nabi Muhammad SAW – yang merupakan lapisan paling atas dalam strata masyarakat Hadhrami. Karena itu, pada masa-masa awal tarekat ini didirikan, pengikut Tarekat Alawiyyah kebanyakan dari kaum sayyid (kaum Hadhrami), atau kaum Ba Alawi, dan setelah itu diikuti oleh berbagai lapisan masyarakat muslim lain dari non-Hadhrami.

Tarekat Alawiyyah juga boleh dikatakan memiliki kekhasan tersendiri dalam pengamalan wirid dan dzikir bagi para pengikutnya. Yakni tidak adanya keharusan bagi para murid untuk terlebih dahulu diba’iat atau ditalqin atau mendapatkan khirqah jika ingin mengamalkan tarekat ini. Dengan kata lain ajaran Tarekat Alawiyyah boleh diikuti oleh siapa saja tanpa harus berguru sekalipun kepada mursyidnya. Demikian pula, dalam pengamalan ajaran dzikir dan wiridnya, Tarekat Alawiyyah termasuk cukup ringan, karena tarekat ini hanya menekankan segi-segi amaliah dan akhlak (tasawuf ‘amali, akhlaqi). Sementara dalam tarekat lain, biasanya cenderung melibatkankan riyadlah-riyadlah secara fisik dan kezuhudan ketat.






                                       BAB I
                                       THARIQAH  ‘ALAWIYYAH
A.   ARTI THARIQAH

     
Secara bahasa thariqah dapat berarti berjalan, metode, system, cara, pejalanan, aturan
 hidup, lintasan, garis, pemimpin sebuah suku dan sarana.1
Thariqah dalam arti jalan, dapat kita temuakan di dalam beberapa ayat Al-Qur’an,           diantaranya adalah wahyu Allah berikut:
وان لو استقاموا علي اطريقة لاسقناهم ماء غدقا                  
     Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama islam),   benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yang banyak). (QS-Al-Jin,72:16)
                                    وانا منا الصالحون ومنا دون ذلك كنا طرائق قددا   
Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang shaleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda.          (QS-Al-Jin,72:11)       
نحن اعلم بما يقولون اذ يقول امثلهم طريقة ان لبثتم الا يوما                    
       Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan, ketika berkata orang yang paling lurus jalanya di antara mereka:  “Kamu tidak berdiam (di dunia) melainkan hanyalah sehari saja”. (QS-Thaha,20:104)

B.   SEJARAH THARIQAH ALAWIYYAH

        Thariqah Alawiyyah adalah suatu thariqah yang ditempuh oleh para salafus sholeh. Dalam thariqah ini, mereka mengajarkan Al-Kitab (Al-Qur’an) dan As-Sunnah kepada masyarakat, dan sekaligus memberikan suri tauladan dalam pengamalan ilmu dengan keluhuran akhlak dan kesungguhan hati dalam menjalankan syariah Rasullullah SAW. Penjelasan di atas dinukil dari buku Qutil Qulub, karya Abul Qosim Al-Qusyairy, dan dari beberapa kitab lain. Mereka menerangkan dengan terinci, bahwa thariqah As-Saadah Bani Alawi ini diwariskan secara turun temurun oleh leluhur (salaf) mereka : dari kakek kepada kepada ayah, kemudian kepada anak-anak dan cucu-cucunya. Demikian seterusnya mereka menyampaikan thariqah ini kepada anak cucu mereka sampai saat ini. Oleh karenanya, thariqah ini dikenal sebagai thariqah yang langgeng sebab penyampaiannya dilakukan secara ikhlas dan dari hati ke hati. Dari situlah dapat diketahui, bahwasanya thariqah ini berjalan di atas rel Al-Kitab dan As-Sunnah yang diridhoi Allah dan Rasul-Nya.
       
         Thariqah Alawiyyah ini menitik-beratkan pada keseimbangan antara ibadah mahdhah, yaاitu muamalah dengan Khaliq, dengan ibadah ghoiru mahdhah, yakni muamalah dengan sesama manusia yang dikuatkan dengan adanya majlis-majlis ta’lim yang mengajarkan ilmu dan adab serta majlis-majlis dzikir dan adab. Dengan kata lain, thariqah ini mencakup hubungan vertikal (hubungan makhluk dengan Khaliqnya) dan hubungan horizontal (antara sesama manusia).
         Selain itu, thariqah ini mengajarkan kepada kita untuk bermujahadah (bersungguh-sungguh) dalam menuntut ilmu guna menegakkan agama Allah (Al-Islam) di muka bumi. Sebagaimana diceritakan, bahwa sebagian dari As-Saadah Bani Alawi pergi ke tempat-tempat yang jauh untuk belajar ilmu dan akhlak dari para ulama, sehingga tidak sedikit dari mereka yang menjadi ulama besar dan panutan umat di zamannya. Banyak pula dari mereka yang mengorbankan jiwa dan raga untuk berdakwah di jalan Allah, mengajarkan ilmu syariat dan bidang ilmu agama lainnya dengan penuh kesabaran, baik di kota maupun di pelosok pedesaan. Berkat berpedoman pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, disertai kesungguhan dan keluhuran akhlak dari para pendiri dan penerusnya, thariqah ini mampu mengatasi tantangan zaman dan tetap eksis sampai saat ini. [Diambil dari Al-'Alam An-Nibros, karya Al-Imam Abdullah bin Alwi Al-Atthas, hal. 1-5, penerbit 'Isa Al-Khalabi Mesir]
         Tarekat Alawiyyah juga merupakan salah satu tarekat mu’tabarah dari 41 tarekat yang ada di dunia. Tarekat ini berasal dari Hadhramaut, Yaman Selatan dan tersebar hingga ke berbagai negara, seperti Afrika, India, dan Asia Tenggara (termasuk Indonesia). Tarekat ini didirikan oleh Imam Ahmad bin Isa al-Muhajir – lengkapnya Imam Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir – , seorang tokoh sufi terkemuka asal Hadhramat pada abad ke-17 M. Namun dalam perkembangannya kemudian, Tarekat Alawiyyah dikenal juga dengan Tarekat Haddadiyah, yang dinisbatkan kepada Sayyid Abdullah al-Haddad, selaku generasi penerusnya. Sementara nama “Alawiyyah” berasal dari Imam Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir.
          Tarekat Alawiyyah, secara umum, adalah tarekat yang dikaitkan dengan kaum Alawiyyin atau lebih dikenal sebagai sa’adah atau kaum sayyid – keturunan Nabi Muhammad SAW – yang merupakan lapisan paling atas dalam strata masyarakat Hadhrami. Karena itu, pada masa-masa awal tarekat ini didirikan, pengikut Tarekat Alawiyyah kebanyakan dari kaum sayyid (kaum Hadhrami), atau kaum Ba Alawi, dan setelah itu diikuti oleh berbagai lapisan masyarakat muslim lain dari non-Hadhrami.

          Tarekat Alawiyyah juga boleh dikatakan memiliki kekhasan tersendiri dalam pengamalan wirid dan dzikir bagi para pengikutnya. Yakni tidak adanya keharusan bagi para murid untuk terlebih dahulu diba’iat atau ditalqin atau mendapatkan khirqah jika ingin mengamalkan tarekat ini. Dengan kata lain ajaran Tarekat Alawiyyah boleh diikuti oleh siapa saja tanpa harus berguru sekalipun kepada mursyidnya. Demikian pula, dalam pengamalan ajaran dzikir dan wiridnya, Tarekat Alawiyyah termasuk cukup ringan, karena tarekat ini hanya menekankan segi-segi amaliah dan akhlak (tasawuf ‘amali, akhlaqi). Sementara dalam tarekat lain, biasanya cenderung melibatkankan riyadlah-riyadlah secara fisik dan kezuhudan ketat.2


C.   TENTANG  THARIQAH  ‘ALAWIYAH
          Thariqah ‘Alawiyyah berasal dari kosakata ,yaitu Thariqah dan ‘Alawiyyah. Di sini, Thariqah mempunyai beberapa arti, di antaranya, sirah (sejarah atau perjalanan hidup, biografi) atau mazhab pemikiran atau tradisi , dan ada juga yang menyamakan antara pengertian thariqah dengan suluk . Jadi, dari sini  dapat dsiimpulkan bahwa kata thariqah dapat berarti kebiasaan atau tradisi  (sunnah) , sejarah kehidupan (sirah), dan suatu organisasi (jama’ah). Oleh karena itu, dari pengertiaan  bahasa sebagaimana diatas, penulis memandang ajaran-ajaran Syaikh Al-Haddad  yang selama ini sudah memasyarakat bias disebut dengan Thariqah Haddadiyyah. Sedangkan kosakata ‘Alawiyyah berasal dari kata Ba ‘Alawi, yakni  suatu marga yang berasal dari Syaikh Muhammad bin ‘Alwi, yang dikenal dengan julukan Ba ‘Alawi, dan dia masih keturunan Nabi Muhammad Saw, dari cucu beliu, Husain r.a. bin Fatimah r.a. Istilah Thariqah ‘Alawiyyah ini, menurut penulis berlaku sejak zaman Muhammad bin ‘Alawi Ba ‘Alawi, atau pada daur yang kedua dalam sejarah kaum ‘Alawiyyah di Hadhramaut.
Dikalangan Ba’Alawi, kata tarekat dipahami sebagai suatu suluk (cara ibadah) yg dilakukan oleh seseorang yang dipandang mempunyai kredibilitas sebagai tokoh. Ketokohan disini terkait dalam masalah-masalah keagamaan dan hubungannya dengan masalah-masalah kemasyarakatan secara luas.
Yang membedakan Thariqah ‘Alawiyyah dengan tarekat ialah perbedaan di antara tokoh-tokoh mereka dalam banyak masalah, diantaranya tentang  masalah wirid. Hampir  setiap tokoh mempunyai wirid sendiri, dan ini  tidak ditemukan dalam tradisi tarekat-tarekat yang ada. Selain itu, tidak ada aturan khusus dalam mengamalkan wirid tersebut. Seandainya ada “syarat” mendapat ijazah dalam mengamalkan suatu wirid, itu hanya merupakan afdhaliyyah (keutamaan), bukan suatu keharusan. Disini tampak secara jelas bahwa Thariqah ‘Alawiyyah bukan tarekat, hanya suatu tradisi dari kalangan Ba ’Alawi dari Hadhramaut, Yaman Selatan.
Hb. Abdullah Al-Haddad menerangkan bahwa Thariqah Ba’Alawi ialah Thariqah-nya para sayyid dari keturunan ‘Ali (Al-’Alawiyyin) dari jalur Imam Husain yang ada di Hadhramaut. Thariqah mereka berdasarkan Al-Qur’an, Al- Sunnah, riwayat-riwayat yang benar, dan ajaran para salaf yang mulia. Para salaf Ba’Alawi mempunyai keunggulan dibandingkan dengan lainnya karena mereka mendapatkan ajaran sesuai dengan urutan nasab mereka, yakni dari anak, ke ayah, kakek, dan begitu seterusnya kepada Nabi Saw.
Syaikh Al-Haddad melihat bahwa dari semua ajaran salaf Ba’Alawi, dapat disimpulkan secara umum bahwa ajaran thariqah mereka ialah menekankan adanya hubungan dengan seorang syaikh (guru pembimbing dalam ibadah), perhatian secara seksama dengan ajarannya, dan membina batin/sirr (dengan ibadah). Selain itu, thariqah ini juga menekankan pentingnya amal, dan untuk itu, dibutuhkan suatu thariqah yang ajarannya mudah dilakukan dan dipahami oleh masyarakat awam (pada umumnya).
Secara terperinci Syaikh Al-Haddad mengatakan bahwa hidup ini adalah safar (sebuah perjalanan menuju Tuhan). Safar adalah suatu cara untuk melakukan perlawanan terhadap hawa nafsu, dan sebagai media pendidikan moral. Seorang Musafir membutuhkan empat hal. Pertama, ilmu yang akan membantu untuk membuat strategi. Kedua, sikap wara’ yang dapat mencegahnya dari perbuatan haram. Ketiga, semangat yang menopangnya. Keempat, moral yang baik yang menjaganya.
Syaikh Ahmad bin Zain Al-Habsyi mengatakan bahwa thariqah mereka menekankan pada ilmu dan amal, wara’ dan khauf (takut), serta ikhlas hanya untuk-Nya. Kelima ajaran ini merupakan bagian penting dalam tahapan awal seseorang menjadikan hatinya bersih dari berbagai macam penyakit hati hingga diterima oleh Tuhannya.



D.   AQIDAH  DAN  MADZHAB  BANI  ‘ALAWI    
A.   AQIDAH
Aqidah merupakan bagian terpenting dalam kehidupan beragama. Di zaman ini kita melihat telah muncul berbagai aqidah yang menyimpang dari ajaran Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa shahbihi wa sallam dan para sahabatnya. Sebagai anak cucu Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa alihi wa shahbihi wa sallam wajar jika kemudian masyarakat menanyakan apakah aqidah Bani ‘Alawi. Karena itulah para ulama senior Bani ‘Alawi selalu menjelaskan aqidah mereka dalam buku maupun nasihat-nasihatnya. Ini mereka lakukan demi melanjutkan niat suci Imam Ahmad bin ‘Isa, pendahulu mereka, yang berhijrah ke Hadhramaut demi menyelamatkan aqidah anak cucunya.
Sejak awal Bani ‘Alawi beraqidah ahlussunnah wal jama’ah, sebagaimana disampaikan oleh tokoh-tokoh mereka dari generasi ke generasi hingga saat ini.
Habib ‘Abdullah bin Abu Bakar Al-Aydarus radhiyallahu ‘anhu (w.865H) dalam bukunya Al-Kibritul Ahmar yang tidak lebih dari 23 halaman menuliskan satu bab khusus tentang aqidah ahlussunnah wal jama’ah. Dalam buku tersebut beliau radhiyallahu ‘anhu menuliskan:
Aqidah  Ahlussunnah adalah sebagaimana terdapat dalam syair Syekh ‘Abdullah bin As’ad Al-yafi’i.2Berikut beberapa bait syair Al-yafi’I yang disebutkan oleh Habib ‘Abdullah Bin Al-aydarus  radhiyallahu ‘anhu:


Sebaik-baik masa adalah masa sahabat
Urutan yang terbaik di antara mereka
Adalah tepat seperti yang telah mereka tetapkan
Mereka semua bintang-bintang yang membawa petunjuk
Semuanya adil dan baik hati
Kemulian mereka telah dikenal dan tak dapat dipungkiri
Dari mereka semua Ash-Shiddiq-lah yang paling utama
Beliau seorang yang mulia
Sedangkan posisi keempat dalam kemuliaan
Dipegang oleh Haidar (Sayidina ‘Ali)
Yang memiliki keutamaan.


B.   MADZHAB BANI  ‘ALAWI
Imam Ahmad bin ‘Isa dan anak cucunya dikenal sebagai orang-orang yang sangat berjasa di dalam penyebaran madzhab Syafi’I di Hadhramaut dan Asia. Dalam ensiklopedia Britannica disebutkan:
Pada pertengahan abab 10 M karena berbagai gangguan yang terjadi di Iraq, maka Ahmad bin ‘Isa Al-Muhajir melakukan perjalanan hijrah dan tiba di Hadhramaut yang pada saat itu dikuasai oleh kaum Ibadhiah. Di sanalah beliau mendirikan perumahan bagi para Sayyid ‘Alwi yang kemudian menjadi orang-orang yang memajukan dan menyebarluaskan madzhab Syafi’I ke India, Indonesia dan Afrika Timur.3
Madzhab Syafi’I tersebar luas di Yaman setelah tahun 340H. Al-Qadhi Ath-Thayyib bin ‘Abdullah bin Ahmad Ba Makhramah dalam bukunya Qalaidun Nahr berpendapat bahwa Imam Ahmad bin Isa telah berhasil menyebarkan madzhab Syafi’I di Hadhramaut sebelum 340H.4 Artinya, hanya dalam kurun waktu kurang lebih dua puluh tahun, Imam Ahmad bin ‘Isa telah berhasil merubah Hadhramaut menjadi pusat penyebaran madzhab Syafi’i. Sebab, beliau tiba di Hadhramaut pada tahun 320H dan wafat pada tahun 345H.
Dalam kitabnya Al-Juz’ul Lathif, Habib Abu Bakar Al-‘Adni bin ‘Abdullah Al-Aydarus menulis:
Guruku, dan Ayahku, muhyiddin, ‘afifuddin, Asy-Syarif Al-Husaini,’Abdullah bin Abu Bakar,  yang mendapat julukan Al-Aydarus, radhiyallahu ‘anhuma, jika mengikat perjanjian dengan muridnya serta meminta mereka untuk beristighfar,beliau menyebutkan sejumlah keyakinan dalam aqidah, seperti beriman kepada Allah Subhanahu wa Taa’ala dan mensucikan-Nya, iman kepada para Rasul, kepada semua kitab yang diturunkan Allah, kepada siksa kubur dan pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir serta berbagai hal lainnya yang tersebut dalam aqidah. Setelah itu beliau akan berkata kepada muridnya tersebut:
Madzahab kami dalam furu’ adalah Madzhab Syafi’i, dalam ushul (aqidah) adalah madzhab guru kami Al-Asy’ari dan Thariqah kami Thariqah-nya para sufi.5


E.    BIOGRAFI IMAM AHMAD BIN ISA AL-MUHAJIR DAN SYEKH ABDULLAH AL-HADDAD

A.   AHMAD BIN ISA AL-MUHAJIR
Imam Ahmad bin Isa al-Muhajir (selanjutnya Imam Ahmad) adalah keturunan Nabi Muhammad SAW melalui garis Husein bin Sayyidina Ali bin Abi Thalib atau Fathimah Azzahra binti Rasulullah SAW. Ia lahir di Basrah, Irak, pada tahun 260 H. Ayahnya, Isa bin Muhammad, sudah lama dikenal sebagai orang yang memiliki disiplin tinggi dalam beribadah dan berpengetahuan luas. Mula-mula keluarga Isa bin Muhammad tinggal di Madinah, namun karena berbagai pergolakan politik, ia kemudian hijrah ke Basrah dan Hadhramaut. Sejak kecil hingga dewasanya Imam Ahmad sendiri lebih banyak ditempa oleh ayahnya dalam soal spiritual. Sehingga kelak ia terkenal sebagai tokoh sufi. Bahkan oleh kebanyakan para ulama pada masanya, Imam Ahmad dinyatakan sebagai tokoh yang tinggi hal-nya (keadaan ruhaniah seorang sufi selama melakukan proses perjalanan menuju Allah—red).
  
Selain itu, Imam Ahmad juga dikenal sebagai seorang saudagar kaya di Irak. Tapi semua harta kekayaan yang dimilikinya tak pernah membuat Imam Ahmad berhenti untuk beribadah, berdakwah, dan berbuat amal shaleh. Sebaliknya, semakin ia kaya semakin intens pula aktivitas keruhanian dan sosialnya.
Selama di Basrah, Imam Ahmad sering sekali dihadapkan pada kehidupan yang tak menentu. Misalnya oleh berbagai pertikaian politik dan munculnya badai kedhaliman dan khurafat. Sadar bahwa kehidupan dan gerak dakwahnya tak kondusif di Basrah, pada tahun 317 H Imam Ahmad lalu memutuskan diri untuk berhijrah ke kota Hijaz. Dalam perjalanan hijrahnya ini, Imam Ahmad ditemani oleh istrinya, Syarifah Zainab binti Abdullah bin al-Hasan bin Ali al-Uraidhi, dan putra terkecilnya, Abdullah. Dan setelah itu ia kemudian hijrah ke Hadhramaut dan menetap di sana sampai akhir hayatnya. Tapi dalam sebuah riwayat lain disebutkan, sewaktu Imam Ahmad tinggal di Madinah Al-Munawarrah, ia pernah menghadapi pergolakan politik yang tak kalah hebat dengan yang terjadi di kota Basrah. Pada saat itu, tepatnya tahun 317 H, Mekkah mendapat serangan sengit dari kaum Qaramithah yang mengakibatkan diambilnya Hajar Aswad dari sisi Ka’bah. Sehingga pada tahun 318 H, tatkala Imam Ahmad menunaikan ibadah haji, ia sama sekali tidak mencium Hajar Aswad kecuali hanya mengusap tempatnya saja dengan tangan. Barulah setelah itu, ia pergi menuju Hadhramaut.

    
  B. Syekh Abdullah al-Haddad
Nama lengkapnya Syekh Abdullah bin Alwi al-Haddad atau Syekh Abdullah al-Haddad. Dalam sejarah Tarekat Alawiyyah, nama al-Haddad ini tidak bisa dipisahkan, karena dialah yang banyak memberikan pemikiran baru tentang pengembangan ajaran tarekat ini di masa-masa mendatang. Ia lahir di Tarim, Hadhramaut pada 5 Safar 1044 H. Ayahnya, Sayyid Alwi bin Muhammad al-Haddad, dikenal sebagai seorang yang saleh. Al-Haddad sendiri lahir dan besar di kota Tarim dan lebih banyak diasuh oleh ibunya, Syarifah Salma, seorang ahli ma’rifah dan wilayah (kewalian).

          Peranan al-Haddad dalam mempopulerkan Tarekat Alawiyyah ke seluruh penjuru dunia memang tidak kecil, sehingga kelak tarekat ini dikenal juga dengan nama Tarekat Haddadiyyah. Peran al-Haddad itu misalnya, ia di antaranya telah memberikan dasar-dasar pengertian Tarekat Alawiyyah. Ia mengatakan, bahwa Tarekat Alawiyyah adalah Thariqah Ashhab al-Yamin, atau tarekatnya orang-orang yang menghabiskan waktunya untuk ingat dan selalu taat pada Allah dan menjaganya dengan hal-hal baik yang bersifat ukhrawi. Dalam hal suluk, al-Haddad membaginya ke dalam dua bagian.

          Pertama, kelompok khashshah (khusus), yaitu bagi mereka yang sudah sampai pada tingkat muhajadah, mengosongkan diri baik lahir maupun batin dari selain Allah di samping membersihkan diri dari segala perangai tak terpuji hingga sekecil-kecilnya dan menghiasi diri dengan perbuatan-perbuatan terpuji. Kedua, kelompok ‘ammah (umum), yakni mereka yang baru memulai perjalanannya dengan mengamalkan serangkaian perintah-perintah as-Sunnah. Dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa Tarekat Alawiyyah adalah tarekat ‘ammah, atau sebagai jembatan awal menuju tarekat khashshah.

          Karena itu, semua ajaran salaf Ba Alawi menekankan adanya hubungan seorang syekh (musryid), perhatian seksama dengan ajarannya, dan membina batin dengan ibadah. Amal shaleh dalam ajaran tarekat ini juga sangat ditekankan, dan untuk itu diperlukan suatu tarekat yang ajarannya mudah dipahami oleh masyarakat awam.

         Al-Haddad juga mengajarkan bahwa hidup itu adalah safar (sebuah perjalanan menuju Tuhan). Safar adalah siyahah ruhaniyyah (perjalanan rekreatif yang bersifat ruhani), perjalanan yang dilakukan untuk melawan hawa nafsu dan sebagai media pendidikan moral. Oleh karena itu, di dalam safar ini, para musafir setidaknya membutuhkan empat hal. Pertama, ilmu yang akan membantu untuk membuat strategi, kedua, sikap wara’ yang dapat mencegahnya dari perbuatan haram. Ketiga, semangat yang menopangnya. Keempat, moralitas yang baik yang menjaganya.6


B.   PENGARUH  BA’ALAWI  DI INDONESIA
Gustav Lebon mengatakan, “Bahwa kami tidak melihat adanya suatu bangsa yang mempunyai pengaruh yang nyata seperti bangsa Arab. Semua bangsa, yang bangsa Arab berhubungan dengannya pasti mengikuti kebudayaan Arab. Ketika bangsa Arab hilang dari panggung sejarah, maka para tirani berkuasa, seperti bangsa Turki dan Mongol, atas tradisi- tradisi mereka”. 
   
Menurut ‘Alwi bin Thahir Al-Haddad, memang benar bahwa kebudayaan Arab telah mati, tetapi kini Dunia Islam yang membentang dari daerah-daerah pesisir Samudra Atlantik hingga India, dan Laut Tengah hingga daerah padang pasir, tidak dikenal kecuali sebagai pengikut Muhammad dan bahasanya. Para Syarif dari Hadhramaut, dari keturunan Imam Ahmad bin Isa Al-Muhajir bin Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Imam Ja’far Al-Shadiq, termasuk para da’i yang menyebarkan agama Islam di Asia Tenggara, termasuk di Indonesia.
Muhammad Ba Mathraf, seorang ahli sejarah Hadhramaut, melihat kaum Ba ‘Alawi merupakan kelompok terbesar dari kabilah Hadhrami yang hijrah ke Asia dan Afrika.
Adapun hasil nyata dalam penyiaran agama Islam (ke Indonesia) adalah dari orang-orang Sayyid Syarif. Dengan perantara mereka agama Islam tersiar diantara raja-raja Hindu di Jawa dan lainnya. Selain dari mereka ini, walaupun ada juga suku-suku lain Hadhramaut (yang bukan golongan Sayyid Syarif), tetapi mereka ini tidak meninggalkan pengaruh sebesar itu. Hal ini disebabkan mereka (kaum Sayyid) adalah keturunan dari tokoh pembawa Islam (Nabi Muhammad Saw).”
Van den Berg juga menulis dalam buku yang sama (hal 192-204) : “Pada abad ke-15, di Jawa sudah terdapat penduduk bangsa Arab atau keturunannya, yaitu sesudah masa kerajaan Majapahit yg kuat itu. Orang-orang Arab bercampur-gaul dengan penduduk, dan sebagian mereka mempunyai jabatan-jabatan tinggi. Mereka terikat dengan pergaulan dan kekeluargaan tingkat atasan. Rupanya pembesar-pembesar Hindu di Kepulauan Hindia telah terpengaruh oleh sifat-sifat keahlian Arab, oleh karena sebagian besar mereka berketurunan pendiri Islam ( Nabi Muhammad Saw). Orang-orang Arab Hadhramaut membawa kepada orang- orang Hindu pikiran baru yg diteruskan oleh peranakan-peranakan Arab, mengikuti jejak nenek moyangnya.”
Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara, untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia, khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, dan jg pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat para Walisongo ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.
Para Walisongo adalah intelektual yg menjadi pembaharu masyarakat pada masanya, keturunan mereka bersambung hingga Nabi Muhammad Saw (kecuali Sunan Kali Jaga), dan masih ada hubungan keluarga dengan para syarif maupun sayyid Hadhramaut.7


F.    THARIQAH ALAWIYYAH DI KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH
Habib Zain Al-Aydrus dari Surabaya merupakan ulama yang menyebarkan tarikat ini di Kalimantan selatan, sekaligus sebagai peletak dasarnya. Ajaran tarikat Alawiyah ini diambil dari berbagai macam tarikat yang berkembang di Indonesia, oleh Habib zain Al-Aydrus amalan dan ajaran tarikat-tarikat tersebut dipadukan, sehingga  setelah mendapatkan restu dari para Habib yang mengajarkan ajaran tarikat yang ada, seperti tarikat Sammaniyah,Naqsyabandiyah dan sebagainya (tarikat  mu’tabarah), kemudian beliau menamakan tarikat ini dengan nama tarikat Alawiyah.
Di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, ajaran ini disebarkan oleh seoarang ulama yang cukup terkenal di daerah tersebut yaitu KH. Muhammad Bachiet, putra dari pasangan Haji Ahmad Mughni (seorang tokoh ulama yang berasal dari Nagara Kabupaten Hulu Sungai Selatan yang popular beliau disebut dengan sebutan H. Amat Nagara) dan Hj. Zainab, dilahirkan pada tanggal 1 januari 1966 di  Tela-ga Air Mata (Kampung Arab). Beliau mempunyai seorang istri yang bernama Hj. Sakdiah dan tiga orang anak.
Sebagai seorang ulama dan guru thariqah Alawiyyah, beliau juga mengarang dua buah buku/kitab yang berkenaan dengan tasawuf, yaitu pertama, kitab Nurul Muhibbin Fi Tarjamah Thariqat Al Arifin min Sadatina Al Alawiyyin, yang membahas tentang ajaran-ajaran dan wirid yang harus dilakukan oleh seorang jamaah thariqah Alawiyyah, Kedua, kitab Ampunan Tuhan (Bagi Orang yang Tobat dari Dosa dan Kesalahan).



      
                                            

BAB II
AMALAN 

Salah satu Amalan THARIQAH  ‘ALAWIYYAH  adalah

 Rattib Al-Attas

اَلْفَاتِحَةُ اِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ, اَعُوذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ (بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ.اَلْحَمْدُلِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ...) الخرسُوْرَةُ الْفَاتِحَة
اَعُوْذُبِا للهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَا نِ الرَّجِيْمِ (ثَلاَثًا)
 ( لَوْاَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَاَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللهِ وِتِلْكَ اْلاَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ. هُوَاللهُ الَّذِيْ لاَاِلَهَ اِلاَّ هُوَعَالِمُ اْلغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَالرَّحْمَنُ الرَّحِيْمُ هُوَاللهُ الَّذِيْ لآ اِلَهَ اِلاَّ هُوَاْلمَلِكُ اْلقُدُّوْسُ السَّلاَمُ اْلمُؤْمِنُ اْلمُهَيْمِنُ اْلعَزِيْزُاْمجَبَارُ اْلمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللهِ عَمَّايُشْرِ كُوْنَ هُوَاللهُ اْمخَالِقُ اْلبَارِئُ اْلمُصَوِّرُلَهُ اْلاَسْمَاءُ اْمحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَافِى السَّمَوَاتِ وِاْلاَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيْزُاْمحَكِيْمِ ) اَعُوْذُبِاللهِ السَّمِيْحِ اْلعَلِيْمِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ (ثلاثا) اَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّا مَّاتِ مِنْ شَرِّمَا خَلَقَ (ثلاثا) بِسْمِ اللهِ الَّذِيْ لاَيَضُرُّمَعَ اسْمِهِ    شَىْءٌ فِى اْلاَرْضِ وَلاَفِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ (ثلاثا) بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ.وَلاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ اِلاَّبِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ (عَشْرًا) بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ (ثَلاَثًا) بِسْمِ اللهِ تَحَصَّنَّا بِاللهِ.بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْنَا بِاللهِ (ثَلاَثًا) بِسْمِ اللهِ آمَنَّابِاللهِ. وَمَنْ يُؤْ مِنْ بِاللهِ لاَخَوْفٌ عَلَيْهِ (ثَلاَثًا) سُبْحَانَ اللهِ عَزَّاللهِ. سُبْحَانَ اللهِ جَلَّ اللهِ (ثَلاَثًا) سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ.سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ (ثَلاَثًا) سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُلِلَّهِ وَلآ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ (اَرْبَعًا) يَالَطِيْفًا بِخَلْقِهِ يَاعَلِيْمًا بِخَلْقِهِ يَاخَبِيْرًا بِخَلْقِهِ. اُلْطُفْ بِنَايَالَطِيْفُ,يَاعَلِيْمُ يَاخَبِيْرً (ثلاثا) يَا لَطِيْفًا لَمْ يَزَلْ. اُلْطُفْ بِنَافِيْمَانَزَلْ اِنَّكَ لَطِيْفٌ لَمْ تَزَلْ. اُلْطُفْ بِنَاوَ الْمُسْلِمِيْنَ (ثَلاَثًا) لآ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ (اَرْبَعِيْنَ مَرَّةً) مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ. حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ (سبعا) اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَّى مُحَمَّدٍ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ (عَشْرًا)  اَسْتَغْفِرَاللهَ (اا مَرَّةً). تَائِبُوْنَ اِلَى اللهِ (ثَلاَثًا) يَااَللهُ بِهَا.يَااَللهُ بِهَا يَااَللهُ بِحُسْنِ اْلخَاتِمَةِ (ثَلاَثً) غُفْرَا نَكَ رَبَّنَا وَاِلَيْكَ اْلمَصِيْرُ لاَيُكَلِفُ اللهُ نَفْسًا اِلاَّ وُسُعَهَا لَهَا مَا اكَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكَتَسَبَتْ رَبَّنَا لاَ تُؤَا خِذْنَا اِنْ نَسِيْنَا اَوْاَخْطَأْ نَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَا قَةَلَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْلَنَا وَارْحَمْنَا اَنْتَ مَوْلاَ نَا فَانْصُرْنَا عَلَى اْلقَوْمِ اْلكَا فِرِيْنَ.

Kemudian membaca :

اَلْفَاتِحَةُ اِلَى رُوْحِ سَيِّدِنَاوَ حَبِيْبِنَاوَ شَفِيْعِنَ رَسُوْلِ اللهِ , مُحَمَّدِ بِنْ عَبْدِاللهِ , وَاَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَاَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ , اَنَّ اللهَ يُعْلىِ دَرَجَاتِهِمْ فِى اْلْجَنَّةِ وَ يَنْفَعُنَا بِاَسْرَارِ هِمْ وَاَنْوَارِهِمْ وَعُلُوْمِهِمْ فِى الدِّ يْنِ وَالدُّنْيَا وَاْلآ خِرَةِ وَيَجْعَلُنَا مِنْ حِزْ بِهِمْ وَيَرْزُ قُنَا مَحَبَّتَهُمْ وَيَتَوَفَّانَا عَلَى مِلَّتِهِمْ وَيَحْشُرُنَافِى زُمْرَ تِهِمْ . فِى خَيْرٍ وَ لُطْفٍ وَعَافِيَةٍ , بِسِرِ الْفَا تِحَةْ اَلْفَاتِحَةُ اِلَى رُوْحِ سَيِّدِنَا الْمُهَا جِرْ اِلَى اللهِ اَحْمَدْ بِنْ عِيْسَى وَاِلَى رُوْحِ سَيِّدِنَااْلاُ سْتَاذِ اْلاَعْظَمِ اَلْفَقِيْهِ الْمُقَدَّمِ , مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيّ بَاعَلَوِيْ وَاُصُوْلِهِمْ وَفُرُوْعِهِمْ , وَذَوِىْ الْحُقُوْقِ عَلَيْهِمْ اَجْمَعِيْنَ اَنَّ اللهَ يَغْفُرُ لَهُمْ وَيَرْ حَمُهُمْ وَيُعْلِيْ دَرَجَاتِهِمْ فِى الْجَنَّةِ , وَيَنْفَعُنَا بِاَسْرَارِهِمْ وَاَنْوَارِهِمْ وَعُلُوْ مِهِمْ فِى الدِّ يْنِ وَالدُّنْيَاوَاْلاَخِرَةِ . اَلْفَا تِحَةُ اَلْفَاتِحَةُ اِلَى رُوْحِ سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا وَبَرَكَاتِنَا صَاحِبِ الرَّاتِبِ قُطْبِ اْلاَنْفَاسِ اَلْحَبِيْبِ عُمَرْ بِنْ عَبْدِالرَّحْمَنِ الْعَطَّاسْ , ثُمَّ اِلَى رُوْحِ الشَّيْخِ عَلِيِّ بْنِ عَبْدِ اللهِ بَارَاسْ , ثُمَّ اِلَى رُوْحِ اَلْحَبِيْب عَبْدُالرَّحْمَنِ بِنْ عَقِيْل اَلْعَطَّاسْ , ثُمَّ اِلَى رُوْحِ اَلْحَبِيْب حُسَيْن بِنْ عُمَرْ اَلْعَطَّاسْ وَاِخْوَانِهِ ثُمَّ اِلَى رُوْحِ عَقِيْل وَعَبْدِ اللهِ وَصَا لِحْ بِنْ عَبْدُالرَّحْمَنِ اَلْعَطَّاسْ ثُمَّ اِلَى رُوْحِ اَلْحَبِيْب عَلِيِّ بْنِ حَسَنْ اَلْعَطَّاسْ ثُمَّ اِلَى رُوْحِ اَلْحَبِيْب اَحْمَدْ بِنْ حَسَنْ اَلْعَطَّاسْ وَاُصُوْلِهِمْ وَفُرُوْعِهِمْ وَذَوِى الْحُقُوْقِ عَلَيْهِمْ اَجْمَعِيْنَ اَنَّاللهَ يَغْفِرُ لَهُمْ وَيَرْ حَمُهُمْ وَيُعْلِى دَرَجَا تِهِمْ فِى الْجَنَّةِ وَيَنْفَعُنَا بِاَسْرَارِهِمْ وَاَنْوَارِهِمْ وَعُلُوْ مِهِمْ وَنَفَحَا تِهِمْ فِى الدِّ يِنِ وَالدُّ نْيَاوَاْلآخِرَةِ )اَلْفَا تِحَةْ(
اَلْفَاتِحَةُ اِلَى اَرْوَحِ اْلاَوْالِيَاءِ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّا لِحِيْنَ . وَاْلاَ ئِمَّةِ الرَّاشِدِ يْنَ وَاِلَى اَرْوَاحِ وَالِدِيْنَا وَمَشَا يِخِنَا وَذَوِى الْحُقُوْقِ عَلَيْنَا وَعَلَيْهِمْ اَجْمَعِيْنَ , ثُمَّ اِلَى اَرْوَاحِ اَمْوَاتِ اَهْلِ هَذِهِ الْبَلْدَةِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اَنَّ اللهَ يَغْفِرُلَهُمْ وَيَرْحَمُهُمْ وَيُعْلِى دَرَجَاتِهِمْ فِى الْجَنَّةِ وَيُعِيْدُ عَلَيْنَا مِنْ اَسْرَ ارِهِمْ وَانْوَ ارِهِمْ وَعُلُوْ مِهِمْ وَبَرَكَاتِهِمْ فِى الدِّ يْنِ وَالدُّ نْيَا وَاْلآ خِرَةِ . اَلْفَاتِحَةْ.
اَلْفَاتِحَةُ بِالْقَبُوْلِ وَتَمَامِ كُلِّ سُوْلٍ وَمَأْمُوْلٍ وَصَلاَحِ الشَّأْنِ ظَا هِرًا وَبَا طِنًافِى الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ دَافِعَةً لِكُلِّ شَرٍّجَالِبَةً لِكُلِّ خَيْرٍ , لَنَا وَلِوَ الِدِيْنَا وَاَوْلاَدِنَاوَاَحْبَا بِنَا وَمَشَا ئِخِنَا فِى الدِّ يْنِ مَعَ اللُّطْفِ وَالْعَا فِيَةِ وَعَلَى نِيَّةِ اَنَّ اللهَ يُنَوِّرُ قُلُوْ بَنَا وَقَوَ الِبَنَا مَعَ الْهُدَى وَالتَّقَى وَالْعَفَافِ وَالْغِنَى . وَالْمَوْتِ عَلَى دِيْنِ اْلاِسَلاَمِ وَاْلاِ يْمَانِ بِلاَ مِحْنَةٍ وَلاَ اِمْتِحَانٍ , بِحَقِّ سَيِّدِ نَاوَلَدِ عَدْ نَانِ , وَعَلَى كُلِّ نِيَّةٍ صَالِحَةٍ .وَاِلَى حَضْرَةِ النَِّبيِّ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ (اَلْفَاتِحَةْ)

Kemudian membaca :

بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمَنِ الرَّ حِيْمِ. اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَا لَمِيْنَ حَمْدًا يُوَافِى نِعَمَهُ وَيُكَافِىءُ مَزِيْدَهُ, يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِىْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَا نِكْ, سُبْحَا نَكَ لاَ نُحْصِيْ ثَنَا ءً عَلَيْكَ اَنْتَ كَمَا اَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ, فَلَكَ الْحَمْدُ حَتىَّ تَرْضَى, وَلَكَ الْحَمْدُ اِذَارَضِيْتَ, وَلَكَ الْحَمْدُ بَعْدَ الرِّضَى. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِى اْلاَوَّلِيْنَ وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنّا مُحَمَّدٍ فِى اْلآ خِرِيْنَ وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِى كُلِّ وَقْتٍ وَحِيْنٍ, وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِى الْمَلَإِ اْلاَ عْلَى اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ, وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ حَتىَّ تَرِثَ اْلاَرْضَ وَمَنْ عَلَيْهَا وَاَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِيْنَ. اَللَّهُمَّ اِنَّا نَسْتَحْفِظُكَ وَنَسْتَوْ دِعُكَ اَدْيَا نَنَا وَاَنْفُسَنَا وَاَمْوَ الَنَا وَاَهْلَنَا وَكُلَّ ثَيْءٍ اَعْطَيْتَنَا. اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا وَاِيَّا هُمْ فِى كَنَفِكَ وَاَمَانِكَ وَعِيَاذِكَ, مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ مَرِيْدٍ وَجَبَّارٍ عَنِيْدٍ وَذِىْ عَيْنٍ وَذِيْ بَغْيٍ وَذِيْ حَسَدٍ وَمِنْ شَرِّ كَلِّ ذِيْ شَرٍّ, اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شّيْىءٍ قَدِيْرُ. اَللَّهُمَّ جَمِّلْنَا بِالْعَا فِيَةِ وَالسَّلاَ مَةِ, وَحَقِقْنَا بِااتَقْوَى وَاْلاِسْتِقَامَةِ وَاِعِذْنَا مِنْ مُوْ جِبَا تِ النَّدَا مَةِفِى اْلحَالِ وَاْلمَالِ, اِنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَاءِ. وَصَلِّ اللَّهُمَّ بِجَلاَلِكَ وَجَمَالِكَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ, وَارْزُقْنَا كَمَالَ اْلمُتَا بَعَةِ لَهُ ظَا هِرًا وَبَا طِنًا يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ, بِفَضْلِ سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ اْلعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ. وَسَلاَمُ عَلَى اْلمُرْسَلِيْنَ وَلْحَمْدُلِلَّهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ.


                                       BAB III
            KESIMPULAN

            Dikalangan Ba’Alawi, kata tarekat dipahami sebagai suatu suluk (cara ibadah) yg dilakukan oleh seseorang yang dipandang mempunyai kredibilitas sebagai tokoh. Ketokohan disini terkait dalam masalah-masalah keagamaan dan hubungannya dengan masalah-masalah kemasyarakatan secara luas.
            Karena itu, semua ajaran salaf Ba Alawi menekankan adanya hubungan seorang syekh (musryid), perhatian seksama dengan ajarannya, dan membina batin dengan ibadah. Amal shaleh dalam ajaran tarekat ini juga sangat ditekankan, dan untuk itu diperlukan suatu tarekat yang ajarannya mudah dipahami oleh masyarakat awam.

Al-Haddad juga mengajarkan bahwa hidup itu adalah safar (sebuah perjalanan menuju Tuhan). Safar adalah siyahah ruhaniyyah (perjalanan rekreatif yang bersifat ruhani), perjalanan yang dilakukan untuk melawan hawa nafsu dan sebagai media pendidikan moral. Oleh karena itu, di dalam safar ini, para musafir setidaknya membutuhkan empat hal. Pertama, ilmu yang akan membantu untuk membuat strategi, kedua, sikap wara’ yang dapat mencegahnya dari perbuatan haram. Ketiga, semangat yang menopangnya. Keempat, moralitas yang baik yang menjaganya.







                                              

DAFTAR PUSTAKA

1.    UMAR, IBRAHIM,THARIQAH ALAWIYYAH,2001,Mizan
2.    NOVEL BIN MUHAMMAD ALAYDRUS, JALAN NAN LURUS, Taman Ilmu, 2006
3.    SAHRIANSYAH, PROFIL TARIKAT DI KALIMANTAN SELATAN, Antasari Press, 2009
4.    http://www.sufinews.com/index.php/Thoriqoh/tarekat-alawiyyah/Halaman-2.suf  http://www.iqra.net/site/RatibAlHaddadArabic
http://www.alhawi.net/ratib_al.htm
5.    http://www.bamah.net/2011/05/thariqah-%E2%80%98alawiyyah
6.    http://www.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=5&func=view&id=24052&catid=10

Read More..
Posted on 22.27 by Unknown and filed under | 0 Comments »

mengapa DIA



mengapa harus kau hadirkn perasaan suka ini kepda dia ya allah
mengapa harus dia yang aku sayang
mengapa harus terjadi seperti ini
mengapa aku tak bisa menghapus semua tentangnya

kapan aku bisa bahagia lagi
kapan aku bisa ceria lagi
kapan aku bisa tertwa lepas lagi
kapan semua ini akan berakhir......


Dia..dia ...dia...dia..dia..dia......
selalu ad dia dbenak aku
selalu ad dia dhari2 ku


campur aduk semuax howhhhhhhhhhhhhh
pusaaaaaaaaaaanggggg biar ajj GAJE postinganku kali ini cuek ajj

yg penting aku gak sesak hati lge......... huuuffhhhhhh



#zaina

Read More..
Posted on 09.39 by Unknown and filed under | 0 Comments »

MAKALAH PENGEMBANGAN SISTEM


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Suatu sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan atau untuk menyelesaikan suatu sasaran yang tertentu.
Pendekatan sistem yang lebih menekankan pada elemen atau komponennya mendefiniskan sistem adalah kumpulan dari elemen-elemen yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Kedua kelompok definisi tersebut adalah benar dan tidak bertentangan, yang berbeda adalah cara pendekatannya. Pendekatan sistem yang merupakan kumpulan elemen-elemen atau komponen-komponen atau subsistem-subsistem merupakan definisi yang lebih luas.
Sistem informasi adalah suatu sinergi antara data, mesin pengolah data (yang biasanya meliputi komputer, program aplikasi dan jaringan) dan manusia untuk menghasilkan informasi. Jadi sistem informasi bukan hanya aplikasi perangkat lunak. Sistem Informasi ada pada hampir setiap perusahaan atau instansi untuk mendukung kegiatan bisnis mereka sehari-hari. Biasanya porsi pengerjaan pengembangan sistem informasi diserahkan kepada orang-orang yang bekerja di bidang teknologi informasi.
Perancangan sistem informasi merupakan pemgembangan sistem baru dari sistem lama yang ada, di mana masalah-masalah terjadi pada sistem lama diharapkan sudah teratasi pada sistem yang baru.

B.     Tujuan Penulisan
     Adapun tujuan penulisan dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Mengetahui apa itu pengembangan sistem dalam komputer.
2.      Mengenali apa tahap-tahap dan siklus dalam pengembangan sistem.

C.    Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini antara lain:
1.      Pengertian pengembangan sistem
2.      Siklus pengembangan sistem
3.      Tahapan dalam pengembangan sistem.

D.    Metode Penulisan
Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah metode menggunakan internet.
























BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Pengembangan Sistem
Pengembangan sistem (systems development) dapat berarti menyusun suatu sistem yang baru untuk menggantikan sistem yang lama secara keseluruhan atau memperbaiki sistem yang telah ada. Sistem yang lama perlu diperbaiki atau diganti disebabkan karena beberapa hal, yaitu sebagai berikut ini:
1.      Adanya permasalahan-permasalahan (problems) yang timbul di sistem yang lama.
2.      Ketidakberesan dalam sistem yang lama menyebabkan sistem yang lama tidak dapat beroperasi sesuai dengan yang diharapkan.
3.      Kecurangan-kecurangan disengaja yang menyebabkan tidak amannya harta kekayaan perusahaan dan kebenaran dari data menjadi kurang terjamin.
4.      Kesalahan-kesalahan yang tidak disengaja yang juga dapat menyebabkan kebenaran dari data kurang terjamin.
5.      Tidak efisiennya operasi.
6.      Tidak ditaatinya kebijaksanaan manajemen yang telah ditetapkan.
7.      Pertumbuhan organisasi.
Sebuah sistem informasi adalah untuk mengatur manusia dan komponen-komponen mesin, dan prosedur-prosedur yang saling berkaitan untuk mendukung kebutuhan informasi atau bisnis pada sebuah organisasi dan para pengguna sistem. Sistem tersebut tidak seperti paket program perangkat lunak aplikasi tetapi harus terlebih dahulu dikostumisasi.

B.     Siklus Pengembangan Sistem
1.      Pengertian Siklus Pengembangan Sistem
Pengembangan sistem informasi yang berbasis komputer dapat merupakan tugas kompleks yang membutuhkan banyak sumber daya dan dapat memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk menyelesaikannya. Proses pengembangan sistem melewati beberapa tahapan dari mulai sistem itu direncanakan sampai dengan sistem tersebut diterapkan, dioperasikan dan dipelihara. Bila operasi sistem yang sudah dikembangkan masih timbul kembali permasalahan-permasalahan yang kritis serta tidak dapat diatasi dalam tahap pemeliharaan sistem, maka perlu dikembangkan kembali suatu sistem untuk mengatasinya dan proses ini kembali ke tahap yang pertama, yaitu tahap perencanaan sistem. Siklus ini disebut dengan siklus hidup suatu sistem (systems life cycle). Daur atau siklus hidup dari pengembangan sistem merupakan suatu bentuk yang digunakan untuk menggambarkan tahapan utama dan langkah-langkah di dalam tahapan tersebut dalam proses pengembangannya.
Siklus pengembangan sistem (system development life cycle = SDLC) adalah prose formal yang harus dilakukan oleh suatu organisasi yang akan membangun sistem informasi berbasis komputer, yang tergantung beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut termasuk ukuran organisasi, deskripsi tugasnya, relevansi pengalamannya, dan latar belakang pendidikan dalam konsep-konsep proses informasi, peralatan, dan teknik.
2.      Keterlibatan Pengguna dalam Pengembangan Sistem
 Berikut ini beberapa contoh bagaimana keterlibatan pengguna di dalam pengembangan suatu sistem, yaitu:
a.       Pentingnya bagi pengguna untuk menjelaskan bagaimana sistem yang sedang berjalan pada bagian tempat pengguna bekerja.
b.      Menemukan dan mendiskusikan permasalahan yang dihadapi dan bagaimana hal itu dapat diperbaiki pada sistem yang baru.
c.       Kemungkinan perlu untuk memakai tenaga analis sistem dan desainer yang dibutuhkan dalam pengembangan sistem untuk memenuhi kebutuhan bagian.
d.      Kemungkinan anda sebagai pengguna selalu dilibatkan di dalam hal persetujuan proyek dan anggaran sebagai anggota special steering committee.
e.       Pada saat pengembangan sistem akan selesai, pengguna akan dimintai bantuannya untuk mengevalusi dan uji coba, untuk memastikan bahwa sistem bekerja dengan sempurna.
f.       Anda sebagai pengguna turut membantu mempersiapkan sebagian dari dokumentasi yang dikumpulkan selama proses pengembangan sistem.
g.      Anda seharusnya menghadiri pengarahan singkat dan sesi pelatihan untuk belajar bagaimana sistem baru akan mempengaruhi pekerjaan anda dan operasi prosedur baru nantinya.
h.      Terakhir tetapi pasti, anda akan menggunakan sistem yang baru tersebut.
Ada enam tahapan dalam siklus pengembangan sistem secara konseptual, yaitu:
a.       Analisis sistem
Menganalisis dan mendefinisikan masalah dan kemungkinan solusinya untuk sistem informasi dan proses organisasi.
b.      Mendefinisikan kebutuhan sistem baru (perancangan sistem)
Merancang output, input, struktur file, program, prosedur, perangkat keras dan perangkat lunak yang diperlukan untuk mendukung sistem informasi.
c.       Mendesain sistem baru
Membangun perangkat lunak yang diperlukan untuk mendukung sistem dan melakukan testing secara akurat. Melakukan instalasi dan testing terhadap perangkat keras dan mengoperasikan perangkat lunak.
d.      Mengembangkan sistem baru dan uji coba oleh pengguna
e.       Implementasi sistem baru
Beralih dari sistem lama ke sistem baru, melakukan pelatihan dan panduan seperlunya.
f.       Evaluasi sistem baru dan pemeliharaan sistem
Mengevaluasi sejauih mana sistem telah dibangun dan seberapa bagus sistem telah dioperasikan.
Siklus tersebut berlangsung secara berulang-ulang. Siklus di atas merupakan model klasik dari pengembangan sistem informasi. Model-model baru, seperti prototyping, spiral, 4GT dan kombinasi dikembangkan dari model klasik di atas.

C.    Tahapan Pengembangan sistem
Tahapan pengembangan sistem adalah yaitu:
Tahap 1:  Analisis sistem berjalan,
Tahap 2:  Mendefinisikan kebutuhan sistem baru,
Tahap 3:  Mendesain sistem baru,
Tahap 4:  Mengembangkan sistem baru dan uji coba oleh pengguna,
Tahap 5:  Implementasi sistem baru,
Tahap 6:  Evaluasi sistem baru, dan
Tahap 7:  Pemeliharaan sistem.
Secara teori inilah siklus hidup pengembangan sistem. Namun pada praktiknya hal ini tidaklah selalu mulus untuk dilaksanakan. Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan pengembangan sistem informasi. Terutama adalah pada faktor manusia yang terlibat. Dari pihak pengembang, kurangnya keahlian dan pengalaman bisa menyebabkan kesalahan dalam satu tahapan sehingga menyebabkan siklus ini harus diulangi dari tahapan yang salah. Bisa terjadi bahwa siklus ini dilakukan sampai berulang-ulang. 
Dari pihak pengguna, idealnya perlu bersama-sama dengan pihak pengembang untuk memahami sistem informasi mulai dari awal siklus hidup pengembangan sistem. Namun yang sering terjadi pihak pengguna menyerahkan semuanya kepada pihak pengembang sehingga pada saat implementasi (testing atau training) pihak pengguna tidak menyetujui (menolak) sebagian atau seluruh rancangan dari sistem yang telah selesai dibangun oleh pihak pengembang.









Read More..
Posted on 19.09 by Unknown and filed under , | 0 Comments »

bingung

sebenarnya apa sich yg harus aku lakukan.....
semua sikap mu membuat aku tak mengerti....
aku bingung dengan keadaan ini

mungkin aku blom bisa mengerti kamu
karna itu aku tak pernah dmengerti oleh kamu......

terkadang lelah menghampiri setiap usaha ku
sedih mdampingi ksendirian ku



howahhhhh
AKU BINGUNG YA RABB........
apakh semua ne harus aku akhri....


Read More..
Posted on 02.54 by Unknown and filed under | 0 Comments »

12 mei 2012

mungkin sekarang aku tak tau apa yang mesti aku lakukan
apakah aku harus berubah atau tetap bersikap seperti biasa...
terkadang aku merasa semua ini terlalu bodoh tuk aku teruskan...

hufhh...
memang sulit tuk' mengartikan semua tentang rasa ini..
bingung... (><) mungkin cuma itu yang dapat aku keluarkan dari mulut ku..



Read More..
Posted on 06.46 by Unknown and filed under | 0 Comments »

KISAH INSPIRATIF ISLAMI


........

Perjalanan panjang & kesungguhan seorang ikhwan salafy untuk mendatangi majelis ilmu syar’ie.

“Ilmu tidak akan diperoleh dengan tubuh yang dimanjakan dengan santai/tidak bersungguh-sungguh).”
(Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi I/385, no. 554)

Kisah Nyata di Suatu Dauroh (Perjalanan Seorang Penuntut Ilmu yang Perlu Diteladani)

Penulis : Hamba Alloh


Bismillaahir rahmaanir rahiim……..

Cerita ini saya (penulis) tulis adalah untuk memberikan ibroh kepada kita semua khususnya saya sendiri bahwa penderitaan dan kesusahahpayahan kita dalam menempuh jalan yang haq ini tidaklah seberapa, bahkan jika kita bandingkan dengan para salafushalih.

Cerita yang saya ambil ini adalah kisah manusia di masa ini, dimana sangat langka dan sulit ditemui orang-orang yang memiliki ghiroh yang sama sepertinya dalam tholabul ‘ilm. Saya menuliskan cerita ini adalah berdasarkan sebuah kisah nyata, dimana kisah tersebut saya dengar sendiri oleh salah satu sumber (akhwat) terpercaya yang mengetahui kisah tersebut…

wallahua’lam....!!!
Semoga kisah ini dapat memotivasi dan menginspirasi kita untuk lebih dapat bersemangat dalam menuntut ilmu syar’ie…
Baarokallaahu fiikum..!!!

Di suatu daerah terpencil, terdapat sepasang suami istri yang sangat zuhud, mereka belum dikaruniai seorang putra karena masih dikategorikan pengantin yang masih baru. Perlu diketahui sang suami adalah seorang yang sangat rajin menuntut ilmu, ia adalah seseorang yang memiliki semangat yang sangat luar biasa untuk memperoleh ilmu. Bahkan dahulu ketika ia ingin menikah, ia tidak mempunyai sepeser uang yang cukup untuk meminang seorang akhowat, dan akhirnya ia menghadap kepada salah seorang ustadz di ma’had yang saat itu ia belajar di sana hanya untuk meminta nasihat bagaimana ia dapat menikah. Ia sangat sadar bahwa dirinya tak tampan, dan tidak mapan dalam pekerjaan karena hampir masa mudanya dihabiskan di ma’had. Sang ustadz pun menghargai tekadnya dan pada akhirnya membiayai pernikahan lelaki tersebut.

Sang suami di masa mudanya adalah salah seorang murid yang diakui kepandaiannya di ma’hadnya. Beberapa rekan dan ustadz memujinya dalam hal keilmuannya. Suatu hari sang suami berniat ingin mendatangi suatu dauroh di luar kota. Karena ia belum memiliki pekerjaan yang tetap (masih serabutan-red-) maka ia dan istrinya memikirkan bagaimana caranya agar sang suami dapat pergi untuk mendatangi dauroh tersebut walau ekonomi mereka sangat pas-pasan. Jarak yang harus ditempuh sangatlah jauh, sehingga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sedangkan penghasilan mereka untuk makan sehari-hari saja masih belum cukup. Sang suami bukanlah seorang yang malas dalam mencari nafkah, namun qadarullah, Allah telah menetapkan rezekinya hanya sedemikian. Walau demikian ia tetap bersemangat dalam menjalani hidupnya.

Suatu hari istrinya yang walhamdulillah sangat qona’ah dan juga zuhud, berinisiatif membongkar tabungan yang beberapa bulan ia kumpulkan di kotak penyimpanannya. Qaddarullah, uang yang terkumpul hanya Rp 10.000,-. Bayangkan wahai pembaca, bahkan mata ini ingin menangis ketika saya mengetik kisah ini. Dalam sehari kita bisa memegang uang puluhan ribu, ratusan ribu, bahkan mungkin hingga ada yang mencapai nominal jutaan. Dengan keistiqomahan dan kezuhudan sang istri tidak pernah mengeluh untuk mengumpulkan 100 perak (Rp 100,-) setiap keuntungan yang diperoleh suaminya yang tidak setiap hari ia dapatkan…..

Sang istri segera mengumpulkan uang tersebut dan berinisiatif untuk membuatkan bekal arem-arem (bahasa jawa), yaitu sejenis nasi kepal yang dibungkus daun pisang untuk bekal perjalanan suaminya. Hanya itu yang dapat sang istri berikan kepada suaminya sebagai wujud cinta dan kasih sayangnya.

Sang suami pun kemudian berangkat dengan membawa bekal dan do’a dari istrinya untuk menuntut ilmu. Ia pergi dengan berjalan kaki…..yah!! hanya berjalan kaki untuk menepuh jarak puluhan kilometer!!! (wallahua’lam) Karena ia tak membawa uang sepeserpun untuk bepergian, hanya beberapa buah arem-arem dan pakaian yang melekat di badannya yang ia bawa ke luar kota.
Subhanallooh…..

Perjalanan ia tempuh 3 hari 3 malam dengan kedua kakinya tanpa kendaraan satupun. Akhirnya ia pun sampai di tempat dauroh dilaksanakan, hanya dengan berjalan kaki dan berteduh di tempat seadanya selama perjalanan.

Dauroh akhirnya dimulai, selama dauroh ia sangat antusias untuk mengambil ilmu yang diterimanya, ia mengambil shaf paling depan dan dekat dengan ustadz pemateri. Namun beberapa saat kemudian ia mendapat teguran oleh seseorang di sampingnya karena setiap beberapa menit ia selalu meluruskan kakinya ketika materi berlangsung, hal itu tidak ia lakukan sekali-dua kali….namun hingga beberapa kali, hingga akhirnya orang disampingnya pun menegurnya karena menganggapnya tidak sopan. Hal itu ia lakukan karena kakinya terasa pegal selama 3 hari 3 malam berjalan kaki. (Masyaa Alloh)

Saat istirahat pun tiba, ia berkumpul dengan ikhwan-ikhwan lain di dapur untuk membantu berbenah, ia pun akhirnya menceritakan kisah 3 hari 3 malamnya itu kepada salah seorang ikhwan di tempat tersebut. Dan seketika membuat tercengang orang-orang yang mendengarnya. Akhirnya cerita itu sampai ke telinga ustadz pemateri dauroh. Ustadz pun tercengang dengan kisah itu, dan akhirnya ustadz beserta ikhwan-ikhwan mengumpulkan dana sukarela untuk memberikan sumbangan kepadanya, dan terkumpulah uamg Rp 300.000,- sebagai dana bantuan untuk kepulangannya….

Subhanalloh…
sebuah kisah yang mungkin sempat kita ragukan kebenarannya, tapi Insya Alloh ini kisah nyata.
Semoga kita dapat mengambil ibroh dari kisah ini.
terakhir mari kita simak hadist berikut ini

“Barang siapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu agama, pasti Allah membuat mudah baginya jalan menuju surga”
(HR Muslim)

Yahya bin Abi Katsir rahimahullahu ta’ala berkata, :“Ilmu tidak akan diperoleh dengan tubuh yang dimanjakan (dengan santai/tidak bersungguh-sungguh).”
(Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi I/385, no. 554)

Semoga cerita ini dapat menjadi pelajaran yang berharga bagi kita semua terkhususnya saya sebagai penulis.

Wallahua’lam bishowab….

Nb: Jika ada kekurangan penulisan maupun kekurang tepatan alur cerita dalam kisah ini, semua kesalahan dari penulis semata dan mohon untuk dimaklumi karena keterbatasan ingatan dan lain sebagaianya, karena kebenaran semuanya dari Allah azza wa jalla semata..

Baarokallaahu fiikum

(Menuntut Ilmu Dien (Syar’ie)’s blog)

Yogyakarta, 9 juni 2011

SUMBER : ikhwanmuslim

Read More..
Posted on 07.54 by Unknown and filed under , | 0 Comments »

Aku Rindu Kamu

saat aku membuka GOOGLE+ 
dan meliat-liat d.beranda ..
aku terhenti pada sebuah postingan teteh indah
kata demi kata yang teteh sampaikan itu sangad mengena hatiku banget
seolah-olah aku juga ingin menyampaikan pesan yang sama untuk seseorang... (ciiieeee)


"Mengingatmu,,
Tak Hentikan Senyum Di Bibirku,,
Mengenangmu,,
Tak Kuasakan Aku Menahan Senyumanku,,
_,,
Demi Tuhanku,,
Rindu Ini Bukan Sesuatu Yang Palsu,,
Dan Kau Tau Itu,,
Biar Aku Nikmati Ini, Jangan Minta Aku Tuk Bertemu,,
_,,
Aku Ingin Tetap Dirimu,,
Indah Dan Selalu Menyenangkan, Untukku,,
Jangan Sampai Pertemuanmu Denganku,,
nantinya Hadirkan Kecewa Dihatiku, Ataupun Hatimu,,"
_,,
"Aku,, Rindu Kamu"


by,teteh indah wahyuni


wahhhhh
gak bosen aku baca nya
maksih teteh indah.....
Read More..
Posted on 09.24 by Unknown and filed under | 0 Comments »